Teknologi Pengolahan Kripik Buah

2013-05-15 19_43_48-fig1

seminar dan Kongres

Anang Lastriyanto PERTETA 1998 Yogyakarta

Penerapan Paket Teknologi Pengolahan Kripik Buah dengan Mesin Penggoreng Hampa (Vacuum Fryer) Sistem “Water-Jet”

Anang Lastriyanto (Staf Pengajar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Malang)

ABSTRAK

Industri pengolahan hasil pertanian khususnya pengolahan buah saat ini masih bersifat padat modal, sehingga penguasaannya masih sangat terbatas. Padahal nilai tambah yang didapatkan dari proses ini cukup besar, sebagai gambaran harga kripik nangka di swalayan saat ini mencapai Rp. 30.000 – 60.000 per kg. Hal ini disebabkan karena harga peralatan untuk pengolahan (vacuum fryer) masih terlalu mahal/ impor. Telah berhasil ditemukan mesin penggoreng buah secara hampa (vacuum fryer) sistem “water-jet” skala industri rumah tangga, melalui riset sejak 1994 oleh Anang Lastriyanto, staf pengajar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.

Untuk menerapkan hasil temuan ini dalam bentuk paket teknologi industri pengolahan hasil pertanian yang berorientasi ekspor diperlukan kajian yang seksama. Keandalan hasil penelitian ini ditandai dengan seberapa jauh tingkat penerimaan masyarakat dengan teknologi ini. Dari aspek teknis, proses pengolahan kripik buah diperlukan tekanan maksimal 6 cmHg abs, suhu 95 – 100 o C. Adapun beberapa komoditi yang australian pokies online telah berhasil diproses meliputi: nangka, nanas, salak, rambutan, mangga, durian, cempedak, apel dsb. Sedangkan dari aspek ekonomis, biaya pokok untuk mengolah kripik nanas saat ini berkisar Rp. 9.000, – – Rp. 12. 500, – per kg. Untuk menyebarluaskan hasil penelitian agar terbentuk masyarakat agroindustri yang berbudaya teknologi, perlu ditempuh beberapa upaya sebagai berikut: 1) demonstrasi dan pelatihan, 2) pelatihan pengelolaan usaha pengolahan kripik buah, 3) pelatihan pengelolaan teknis dan job on training. Adapun sebagai subyeknya adalah calon pelaku/ pionir agroindustri antara lain: sarjana yang baru lulus (SP-3), calon transmigran, karang taruna, pengusaha kecil dan koperasi, penyuluh lapangan, ibu rumah tangga yang berkeinginan mandiri dan tenaga kerja yang mengalami PHK. Selain dari itu paket teknologi ini diharapkan dapat melengkapi program pemerintah yang sudah berjalan selama ini, seperti: program pengentasan kemiskinan, inpres desa tertinggal (IDT), pembinaan pengusaha kecil (PPK), usaha lepas panen pedesaan (ULP-2), program sarjana penggerak pembangunan pedesaan (SP-3), dan yang lebih mendesak adalah program mengatasi PHK .

Tinggalkan Balasan